JL. Dr. Wahidin Sudiro Husodo (Simpang Tiga Sumber) Kembangan Kebomas Gresik. Telp. (031) 3955198

Berita

QURBAN, VISUALISASI KEDEKATAN PADA ALLAH

18 September 2015 10:05:34

QURBAN, VISUALISASI KEDEKATAN PADA ALLAH

Pagi Idul Adha seluruh umat Islam merayakan pesta kemenangan keluar dari kungkungan ketergantungan material, kembali mengantungkan diri kepada Tuhan Dzat Yang Maha Segala-galanya. Ritual sholat Idul Adha merupakan mata rantai perjalanan spiritual hamba dihadapan Tuhannya.

Sehari sebelumnya, manusia sebagai hamba diberi pelajaran untuk melepaskan diri dari ketergantungan material, berupa makan dan minum dengan ritual puasa Arafah, sekaligus ikut merasakan kemesraan dengan Tuhan sebagaimana yang dirasakan oleh ribuan umat Islam yang sedang melakukan wukuf di Arafah. Merdeka dari ketergantungan selain Allah adalah yang paling subtantif sebagai piranti peneguhan diri penghambaan manusia kepada Allah Tuhannya.

Kekuatan dan pengaruh yang ditimbulkan oleh selain Allah, adalah kekuatan dan pengaruh nisbi, karena sesungguhnya sumber kekuatan yang hakiki adalah Allah. Puasa Arafah, merupakan bagian dari proses pembelajaran manusia untuk memerdekakan diri dari ketergantungan selain Allah, mensucikan jiwa untuk bersimpuh diharibaan-Nya. Ketika senja menyapa, gema takbir, tahmid, tasbih dan tahlil keluar dari mulut- mulut hamba yang seharian penuh telah mensucikan jiwa dengan puasa Arafah.

Betapa menggelegarnya cakrawala ketika mengagungkan Allah dibarengi dengan sucinya jiwa, betapa dahsyat dentuman senandung puja-puji pada Allah kala dikumandangkan sepenuh jiwa, betapa mempesonannya keindahan tasbih dan tahlil dipersembahkan dengan ketulusan jiwa, setiap makhluk pasti terkagum-kagum dengan persembahan terbaik manusia kepada Allah Tuhannya.

Sebagai klimaks pengambaan jiwa manusia kepada Tuhannya adalah bersimpuh-sujud melaksanakan sholat Idul Adha dikala fajar menyingsing, sambil membentangkan lahan nurani, menumbuhkan benih mutiara khotbah. Semua selain Allah sirna dari jiwanya. Jiwa manusia tergantung hanya pada Yang Haq. Pada relung hati dan jiwanya, manusia telah sowan kepada Allah, bersimpuh, bertemu, berkholwat dan “menyatu”. Allahu Akbar, sungguh tidak ada kenikmatan yang melebihi bertemunya antar kekasih. Allah Maha Kasih menerima kehadiran hamba yang merindukan kasih. Allah Maha Sayang membelai hamba yang gandrung disayang.

Ketuk dan bongkar save memori kita, jujur tanyakan “adakah kenikmatan yang melebihi kemesraan”? Apalagi kemesraan antar Kholiq dengan makhluq, antar hamba dengan Tuhannya, antar yang paling lemah dengan Dzat Yang Maha Segala- galanya. Sehabis bermesraan dengan Allah dengan melaksanakan sholat Idul Adha, manusia semburat pulang dan kembali kemasjid sambil menuntun hewan qurbannya. Secara harfiyah qurban artinya mendekatkan diri. Qurban, dengan demikian adalah upaya mendekatkan diri seorang hamba kepada Tuhannya dengan menyerahkan sebagian harta yang dimiliki berupa hewan ternak. Jika dikembalikan pada sejarah dan kandungan filosofisnya, qurban merupakan visualisasi kedekatan hamba dengan Tuhannya. Qurban, sebagaimana pertama kali dilakukan oleh dua anak Nabi Adam as, Qobil dan Habil, tidak dalam bentuk hewan, namun berupa apa yang terbaik dimiliki keduanya. Yang akhirnya milik salah satunya ditolak dan yang lain diterima oleh Allah. Hal ini karena yang pertama menyuguhkan qurban dengan sesuatu yang jelek yang dimiliki serta tidak murni karena Allah, sementara yang kedua sebaliknya. (QS.Al-Maidah:38). Ketika Nabi Ibrahim as, melakukan qurban dengan domba, sesungguhnya merupakan visualisasi dari menyerahkan harta terbaik dan dibanggakan yang dimiliki.

Bukankah domba adalah ganti dari Nabi Ismail as, yang akan disembelih dengan ikhlas atas perintah Allah? Maka sesungguhnya Nabi Ibrahim as, telah melakukan qurban dengan harta paling berharga yang dimiliki dengan ikhlas karena Allah, berupa Nabi Ismail. Tapi mengapa kok domba yang dipilih sebagai ganti Nabi Ismail? Bisa jadi domba merupakan kekayaan yang mengambarkan status sosial pada waktu itu. Terbukti ketika syariat qurban sampai pada Nabi Muhammad SAW, bukan domba yang dipandang sebagai kekayaan yang mengambarkan status sosial tetapi onta, sehingga berqurban dengan onta lebih baik daripada berqurban dengan domba. Pada era sekarang -tidak bermaksud merubah aturan syariat tentang hewan qurban- sesungguhnya yang dibanggakan dan kepemilikan yang mengambarkan status sosial bukan lagi hewan ternak, tapi bisa jadi uang, deposito, mobil, pangkat, derajat, kekuasaan, ketokohan, ilmu, pengaruh, dan hal lain yang terus beruba bentuk dan wujudnya sesuai dengan pergeseran kehidupan dan peradaban manusia. Maka berqurban dengan hewan ternak hanya merupakan visualisasi kedekatan dan penghambaan manusia kepada Tuhannya. Masih banyak kekayaan dan kebanggaan lain yang harus diserahkan kepada Allah sebagai bentuk qurban untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Sudahkan kita menyisihkan uang dan deposito untuk syiar agama Allah, memakmurkan masjid, investasi pendidikan? Sudahkah pangkat, derajat dan kekuasaan kita untuk mensejaterahkan kaum dhuafa, miskin dan lemah? Sudahkah kita menggunakan ilmu untuk memberikan pencerahan kepada mereka yang sedang dalam kegelapan? Kita sendiri yang paling tahu jawabannya.

Pada syariatnya Nabi Adam as, sampai Nabi Ibrahim as, qurban tidak dibatasi dengan ruang dan waktu, tidak harus terjadi pada bulan Dzulqo’dah. Tapi setiap saat selama manusia masih diberi kesempatan menghirup oksigen menjalani hidup. Karena sesungguhnya kedekatan (qurban) dan berkholwat dengan Allah SWT tidak mengenal ruang dan waktu. Setiap tarikan nafas dan sejengkal langka kehidupan manusia pada dasarnya rindu untuk bermesraan dengan Allah SWT. Allah tidak jauh, tapi dekat bahkan lebih dekat dari urat nadi leher. Allah tidak kabur, tapi sangat jelas. Kedekatan Allah pada manusia sesungguhnya tergantung kedekatan manusia kepada Allah. Ketika manusia mendekat, maka Allah pun dekat. Kala manusia menjauh, maka Allah pun jauh.

Allah bukan dzat yang kabur, fatamorgana. Namun Allah jelas bahkan sangat jelas. Tapi mengapa mata telanjang manusia tidak pernah dapat menangkap wujud Allah? Karena kejelasan wujud Allah diluar kapasitas daya tangkap mata telanjang manusia. Coba sorotkan lampu dengan kekuatan 100 wt tepat didepan mata kita. Apa yang terjadi? Kita akan melihat semua wujud sirna dari penglihatan kita (blolo’en- jawa), sirnanya wujud dari penglihatan kita, bukan karena benar-benar wujud material sirna, tapi daya tampung penglihatan kita tidak mampu menangkap jelasnya sinar diluar kapasitas mata telanjang kita.

Allahu Akbar, bukanlah Allah sesuatu yang tidak jelas dan kabur, tapi saking jelasnya sehingga mata telanjang kita tidak mampu menangkapnya. Maka sesungguhya yang dapat menangkap wujud dan keberadaan Allah adalah mata batin kita. Puasa Arafah, takbir, tahmid, tasbih dan tahlil semalam suntuk, sholat Idul Adha ketika fajar menyingsing dan diteruskan berqurban, sesungguhnya adalah mengasah kepekaan mata batin kita untuk sowan, bertemu, berkholwat dan “menyatu” dengan Allah

 

Ahmad Misbahul Abidin, M.Pd.I

Penulis : Ketua Bidang Idarah Masjid Agung Gresik dan Sekretaris MUI Kab Gresik.

* Penulis Adalah Ketua Umum Takmir Masjid Nurul Huda Lowayu Dukun Gresik