JL. Dr. Wahidin Sudiro Husodo (Simpang Tiga Sumber) Kembangan Kebomas Gresik. Telp. (031) 3955198

Berita

MAHABBAH RASUL

04 September 2015 10:35:11

MAHABBAH RASUL

Cinta mampu menjadikan orang yang mencinta menghamba kepada yang dicinta, ungkapan ini betul dalam realitas kehidupan. Bagi yang mencintai harta benda dia akan menghamba pada harta benda, bagi yang mencintai pangkat dan jabatan dia akan menghamba pada pangkat dan jabatan, termasuk bagi yang mencintai Islam maka dia akan taat dan patuh pada seluruh ajaran Islam.

Peringatan maulid nabi yang sekarang banyak diselenggarakan oleh umat Islam diberbagai belahan dunia, merupakan ekspresi cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Tentu tidak dimaksudkan sebagai jaminan bahwa penyelenggaraan peringatan maulid nabi satu-satunya cara mencintai Nabi/mahabbah rasul.

Konsekwensi logis mahabbah rasul diantaranya pertama adalah kerelaan menjalankan syariat yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Menjalankan syariat tentu dengan pengertian seluruh aspek yang diajarkan. Perintah masuk Islam dengan secara paripurna tentu menjadi penting dipahami dalam konteks kerelaan menjalankan syariat yang diajarkan Nabi. Sebab dalam realitanya seiring dengan perkembangan zaman, di Indonesia, akhir-akhir ini, Islam tampil dengan wajah yang terkesan radikal bahkan dalam konteks tertentu ekstrim, yang selama ini terkenal Islam Indonesia Islam yang ramah. Hal ini tentu dapat dipastikan bahwa penterjemahan ajaran Nabi tidak dijalankan dengan secara paripurna dari berbagai aspek. Islam memang agama dakwah, tetapi Islam juga agama rahmatan lil alamin, agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kasih sayang, Islam bukan agama yang menghalalkan berbagai cara, termasuk kekerasan, untuk tercapainya tujuan dakwah.

Kedua adalah mengoptimalkan ketaatan. Taat kepada Nabi SAW pada hakikatnya adalah taat kepada Allah SWT. Taat dalam pengertian menjalankan seluruh perintah Allah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya (baca-taqwa). Ketaatan memiliki ruang dan waktu sesuai keberadaan seorang hamba. Perintah mengeluarkan zakat tentu bagi para hamba yang memiliki kwualifikasi mengeluarkan zakat, larangan korupsi tentu berlaku bagi para hamba yang memiliki kesempatan melakukan korupsi. Taat tidak dapat hanya dibingkai dengan ritual ibadah mahdlo belaka, namun taat hadir dalam semua lini kehidupan sosial oleh siapa – dimana  dan kapanpun berada.

Ketiga adalah mencontoh akhlaq Nabi. Banyak hadits atau atsar serta sejarah Nabi yang mengilustrasikan betapa mulya dan luhurnya akhlaq Nabi. Firman Allah Q.S Al Ahzab : 21

 

Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Ayat tersebut memang kalam khabar (berita) bukan kalam insya’ (perintah). Akan tetapi tidak dapat diinkari bahwa ayat tersebut mengandung perintah untuk meneladani Rasulullah.

Rasulullah Muhammad merupakan insan kamil, pribadi paripurna, makhluk sempurna yag dicipta Allah sebagai contoh konkrit kehidupan pribadi-pribadi muslim. Akhlaq Rasulullah sesugguhnya adalah apa yang secara tersurat dan tersirat terkadung dalam Al Qur’an. Kana khuluqu hu al qur’an (Al Qur’an adalah akhlaq Rasulullah) merupakan ungkapan yang mempertegas bahwa Rasulullah Muhammad adalah manusia sempurna yag tercipta untuk menjadi uswah/teladan, karena dalam pribadinya merupakan wujud konkrit kandungan Al Qur’an.

Disebutkan dalam kutub al qudama (kitab-kitab terdahulu) bahwa Rasul yang terlahir pada akhir zaman memiliki ciri-ciri diantaranya pertama tidak marah ketika dicaci dan dimaki. Disebutkan bahwa seorang pendeta tertarik menguji kebenaran isi kitab tersebut dengan cara memberi pinjaman uang kepada Nabi Muhammad SAW. Namun ketika belum waktunya jatuh tempo pengembalian sesuai perjanjian, pendeta tersebut menagih kepada Nabi yang disertai caci maki. Ternyata Rasulullah sama sekali tidak marah atas prilaku sang pendeta, yang akhirnya pendeta semakin yakin akan kebenaran Muhammad sebagai Rasululullah akhir zaman.

Kedua ciri rasululullah akhir zaman adalah peduli pada kaum dhu’afa. Banyak riwayat menjelaskan betapa Rasulullah memberi perhatian penuh kepada kaum papa dan dhu’afa. Dikisahkan ketika Rasulullah hendak berangkat shalat hari raya, diperjalanan Rasul melihat seorang anak kecil menangis. Didekatinya sianak tersebut kemudian ditanya apa yang menyebabkan dia menangis. Diketahui dari jawabannya bahwa dia menangis karena sekarang sudah tidak ada yang membelikan baju baru dan makanan untuk menyambut kehadiran hari raya, karena ayahnya telah meninggal dunia. Seketika itu juga Rasulullah mengajak anak tersebut pulang kerumah Rasulullah diberikan kepadanya baju baru dan beberapa butir kurma. Setelah selesai mandi, ganti baju dan makan kurma, sianak tersenyum bahkan tertawa lebar dan berhambur lari gembira keluar rumah menemui teman-teman sebayanya.

Sabda Rasulullah yang menjelaskan bahwa tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibahwa mengandung hikmah selain dorongan kepada umat Islam untuk gemar shadaqah, peduli pada kaum dhu’afa sekaligus menaruh perhatian serius melakukan pengentasan kemiskinan. Dikisahkan ketika datang kepada beliau seorang pengemis, Rasul bertanya kepada pengemis “Apa ada sesuatu dirumahmu yang dapat dijual?” Ia menjawab ada pakaian yang saya pakai sehari-hari dan sebuah cangkir. Rasul memerintahkan untuk mengambilnya, selanjutnya ditawarkan kepada sahabat yang berkenan membeli cangkir tersebut dengan harga paling tinggi. Setelah dihargai dua dirham, Rasul menyerahkan uang tersebut kepada pengemis sambil menyuruh membeli makanan untuk keluarga dan membeli kapak untuk mencari kayu bakar. Setelah dua minggu pengemis tersebut datang kepada Rasul sambil menunjukkan uang sepuluh dirham, kemudian disuruhnya dengan uang tersebut membeli pakaian dan makanan untuk keluarganya sambil bersabda “Hal ini lebih baik bagimu, karena meminta-minta hanya akan membuat noda hitam diwajahmu diakhirat kelak” (HR. Abu Dawud).

Subhanallah bertapa mulya akhlak Rasulullah dan kepeduliannya kepada kaum dhu’afa, semoga dengan kecintaan kepadanya kita dapat mencontoh akhlaqnya, amin.......

 

Oleh : Ahmad Misbahul Abidin, M.Pd.I 

* Tulisan disarikan dari obralan bersama KH. Moh As’ad Thoha, M.Ag, Ketua Bidang Imarah, setelah rapat pimpinan Masjid Agung Gresik.

** Ketua Bidang Idarah Masjid Agung Gresik.