JL. Dr. Wahidin Sudiro Husodo (Simpang Tiga Sumber) Kembangan Kebomas Gresik. Telp. (031) 3955198

Berita

BERGURU PADA NABI IBRAHIM

31 Agustus 2015 14:23:13

BERGURU PADA NABI IBRAHIM

Setiap Hari Raya Idul Adha siapapun tersugesti bernosnalgia dengan manaqib Nabi Ibrahim Sang Kekasih. Zaman boleh terus berganti, peradabanboleh bergeser dan mode dunia boleh berputar dan terjadi daur ulang. Namun alam akan menjadi juri bijaksana, mampu membedakan mana sejarahadi luhung dan mana roman picisan. Keteladanan Sang Kekasih Ibrahim as, bagian dari sejarah adi luhung, tidak lapuk oleh hujan dan tidak bergemingoleh putaran mata rantai kehidupan. Ribuan tahun telah terlampaui, namun Nabi Ibrahim tetap patut jadi top figur sebagai anak, bapak, pemimpin,kholifah fil ardl bahkan Rasul yang bergelar Khalilullah. Hal yang logis jika kali ini kita endapkan pikiran sejenak untuk berguru kepada Nabi Ibrahim dalam menjalani kehidupan.

A. Dengan Fithrah Menjadi Pribadi Utuh Ditengah Arus Global

Nabi Ibrahim hidup ditengah komunitas animisme, masyarakatnya bertuhan kepada apa saja yang dianggap memiliki kekuatan. Dengan kekuatan fithrah yang dititipkan Allah pada dirinya, Nabi Ibrahim tidak takluk pada keyakinan masyarakatnya. Nuraninya berontak dan fithrahnya menolak pada keberagamaan yang berlaku.. Bagaimana mungkin, Tuhan divisualisasikan dengan benda (patung) hasil karya sendiri yang selanjutnya disembah sebagai tuhan. Dengan perenungan panjang, Nabi Ibrahim menjadi pribadi utuh, tidak terkontaminasi dengan arus kultur hedonism dan animism.

Hal ini mempertegas bahwa kekuatan fithrah mampu menemukan kebenaran. Fithrah pada manusia merupakan potensi dasar dalam kapasitas pembeda antara manusia satu dengan manusia lainnya bahkan dengan makhluk lain. Potensi itu baik berupa ruhani, jasmani maupun nafsani (qalbu atau emosi, akal atau kognisi dan nafsu atau konasi). Fitrah diungkap dalam al-Qur’an sebanyak 20 kali yang tergelar di dalam 17 surat. Di antara ayat yang memuat kata fitrah adalah Q.S. al-Rum ayat 30: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fithrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. al-Rum:30). Firman tersebut menunjukkan bahwa manusia diciptakan oleh Allah SWT menurut fithrahnya. Dengan demikian fithrah merupakan citra manusia yang penciptaannya tidak ada perubahan, sebab jika berubah maka eksistensi manusia menjadi hilang dan kontinuitas fithrah sebagai pertanda agama yang lurus, walaupun ini tidak disadari oleh kebanyakan manusia. Hal ini yang mengantarkan Nabi Ibrahim menemukan diri yang utuh dalam kehidupan. Karena tidak bertumpu pada eforiaperadaban yang berproses dimasyarakatnya, tetapi bertumpu pada potensifithrahnya sendiri.

Oleh karena itu, untuk menganalisis keberhasilan Nabi Ibrahim menembus kegelapan aqidah, dan menjadi manusia paripurna, dapat ditelusuri dari hakekat fithrah yang menjadi citra manusia. Ketika menganalisis ayat tersebut, para mufassir mengemukakan bahwa fitrah memiliki beberapa makna, diantaranya (1) Fithrah berarti suci atau kesucian dan potensi dasar manusia atau perasaan untuk beribadah dan makrifat kepada Allah (tafsir al- Qurthuby). (2) Fithrah berarti potensi ber-Islam. (tafsir Lubab at-Ta’wil fima’ani al-Tanzil). (3) Fithrah berarti mengakui ke-Esa-an Allah. (tafsir Mafatih al-Ghaib). (4) Fithrah berarti kondisi selamat dan kontinuitas. (al-Tashawwuf fi Taras ibn Taimiyat). (5) Fithrah berarti perasaan yang tulus (tafsir al-Thabari). (6) Fithrah berarti kesanggupan atau predisposisi untuk menerima kebenaran. (tafsir al-Maraghi)). (7) Fithrah berarti human nature/tabiat asli manusia. Dan (9) fithrah berarti juga sifat-sifat Allah Swt. yang ditiupkan pada setiap manusia sebelum dilahirkan. (Q.S. al-Hijr:29). Berdasarkan makna di atas maka dapat ditarik benang merah, bahwa secara terminologis fithrah adalah “citra asli yang dinamis, yang terdapat pada sistem-sistem psikopisik manusia, dan dapat diaktualisasikan dalam bentuk tingkah laku. Citra tersebut telah ada sejak awal penciptaannya." (DR. Abdul Mujib, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Perkembangan Fithrah Manusia, 2005).

Pada era globalisasi agama dan budaya, umat Islam di seantero dunia secara alamiah harus bersentuhan dan bergaul dengan budaya dan agama lain. Sering kali dijumpai umat Islam, baik sebagai individu maupun organisasi, mengalami kesulitan keagamaan -untuk tidak mengatakan tidak siap- ketika harus berhadapan dengan arus global ini. Bangunan keberagamaan yang bersifat warisan dari generasi terdahulu, yang tidak bertumpu pada kejernihan dan kekuatan fithrah, rupanya tidak cukup kokoh menyediakan seperangkat teori dan metodologi untuk menjelaskan bagaimana seorang agamawan yang baik harus berhadapan, bergaul, bersentuhan, berhubungan dengan penganut agama-agama yang lain dalam alam praksis sosial, budaya, ekonomi, dan politik. (M. Amin Abdullah, Kajian Ilmu Kalam di IAIN, 2004)

B. Menyeimbangkan Penghormatan Kepada Orang Tua dan Ketaatan Kepada Allah

Pada umumnya penghormatan itu sinergis dengan ketaatan. Berbeda dengan kasus yang terjadi pada Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim harus hormat kepada Ayah yang produser “tuhan” (Azar pencipta patung) untuk menjual hasil produksinya dengan keliling kampung. Disisi lain apa yang dilakukan bertolak belakang dengan natijah perenungan dan pengembaraan mencari Tuhan. (Q.S, al-An’am, 74-79). Nabi Ibrahim dihadapkan dengan pilihan sulit, antara hormat pada ayah dan mentaati kekuatan fithrahnya untuk ber-Tuhan pada Yang Esa. Toh akhirnya Sang Kekasih Allah ini dapat sampai pada titik temu keduanya, dengan tetap menghormati ayah untuk menjual patung dan sekaligus dijadikan sarana provokasi kesalahan keberagamaan masyarakatnya. Misalnya dengan ungkapan “Patung…, tuhan…, silahkan beli tuhan karya ayah saya, atau silahkan menyembah langsung kepada ayah saya dari pada hanya menyembah karyanya”

Apa yang dialami Nabi Ibrahim untuk sampai pada titik temu dua kepentingan kontradektif, sering terulang pada kita, dan kita sering gagal meneladaninya. Berfikir obyektif, mengesampingkan subyektifitas kepentingan pribadi, bertindak dibarengi ketulusan hati dan memposisikan orang lain secara proporsional, merupakan mata rantai solusi keruwetan masalah. Keilmuan, status, kekayaan, prasangka, ego dan jabatan yang menempel pada kita, sering memberangus posisi zero kita. Padahal pada posisi zerolah manusia mampu mendatangkan “kekuatan tuhan”, untuk mengurai dan keluar dari masalah. Sebagaimana ketika pilot Abdur Razaq lolos sekaligus menyelamatkan kematian masal, saat mendarat-daruratkan pesawat Garuda di Bengawan Solo, ketika mesin pesawat tidak fungsi. (ESQ, Emotional Spiritual Quetient, Ary Ginanjar Agustian, Arga, 2001).

C. Mewariskan Nilai Monoteism Kepada Anak Cucu

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu (ketaatan kepada Tuhan Yang Esa) kepada anak-anaknya, demikian juga Ya’qub. Ibrahim berkata “Hai anak- anakku ! Sesungguhnya Allah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (Q.S, al-Baqarah, 132).

Perhatian utama Nabi Ibrahim kepada generasi selanjutnya adalah keyakinan bahwa Tuhan itu Maha Esa, (monoteisme). Ajaran substansial monoteisme merupakan keimanan yang akan membentuk moralitas sosial-kemanusiaan yang kukuh bagi setiap orang yang meyakininya. Ajaran Sang Kekasih Allah tersebut kemudian dielaborasi lebih jauh oleh Nabi Muhammad saw. Dengan berpijak pada Al-Quran, Nabi Muhammad saw menegaskan tentang Tuhan Yang Mahaesa sebagai dzat yang transenden, tapi sekaligus imanen. Ia melampaui segala yang ada, tapi sekaligus "berada di samping" manusia dan selalu menyertai kehidupan mereka. Allah adalah yang absolut yang memiliki kebenaran mutlak yang tak mungkin diganggu gugat, tapi sekaligus merupakan Tuhan yang sangat dekat yang selalu mau berdialog dengan manusia. Allah akan selalu mendialogkan kebenaran yang bersifat universal tentang keterkaitan monoteisme dan kemanusiaan universal. Karena itu, manusia harus menerima kebenaran tersebut dan menjadikannya sebagai pijakan dalam perjalanan kehidupannya. (Islamlib.com, Refleksi Idul Adhah, Abdul A’la, 2004). Sebagai orang tua, sepatutnya kita masghul bahkan kwawatir, akan keberlangsungan agama anak cucu. “Dan hendaknya takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah… “ (Q.S. al-Nisa’, 9). Lemah dengan pengertian universal, lemah harta (miskin), lemah ilmu (bodoh) dan lemah keyakinan. (Tarbiyah al-Aulad, Abdullah Nashih Ulwan, Darus al-Salam, Bairut)

Dan diantara nilai monoteism yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim adalah ibadah haji. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa, ibadah haji merupakan transformational journey. Dalam hal ini, hujjaj (orang yang haji) seharusnya bisa terlahir kembali dan kehidupan mereka tercerahkan. Pertemuannya dengan Allah, meniscayakan terjadinya transformasi dahsyat dalam diri mereka, berupa penemuan kembali elan ajaran Islam yang substantif. Mereka yang telah mengerjakan haji, sebenarnya telah kembali kepada kehidupan fitri. Suatu kehidupan yang dapat mengantarkan mereka kepada sikap serta pandangan yang menekankan kesetaraan, kesederhanaan, toleransi sebagaimana mereka terlahir dengan status yang sama satu dengan yang lain. Hal ini mempertegas ajaran monoteisme. Dipihak lain, monoteisme merepresentasikan pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan dan ketidakadilan. Ibadah haji yang merupakan bagian integral ritual umat Islam, merupakan perjalanan napak tilas terhadap monoteisme Nabi Ibrahim, as yang kemudian diaktualisasikan kembali oleh Nabi Muhammad saw. Nabi Ibrahim adalah Bapak Monoteisme yang peduli akan keyakinan anak cucunya.

D. Ikhlash Dalam Bertindak Semata-mata Ridlo Allah

Nabi Ibrahim rela menyerahkan barang berharga yang dimiliki, berupa Isma’il kecil yang menjadi buah hatinya, kepada Allah yang Mahaesa. Semua dilakukan semata-mata mahabbah ilallah dan ridlo-Nya. Sementara, disadariatau tidak, kita sering melakukan aktifitas tidak murni karena Allah, kadang karena ego dan status. Jangankan aktifitas sosial, kita kadang melakukan aktifitas ibadah mahdlo sekalipun masih tercampuri dengan tujuan selain ridlo Allah. Padahal kita mafhum, bahwa ibadah yang diniatkan selain Allah itu adalah syirik khofi. (Mukasyafah al-Qulub, al-Ghazali). Pertanyaanya sudahkan kita berbuat se ikhlash nabi Ibrahim ?. Semoga bermanfaat, selamat Hari Raya Qurban, semoga kita kembali pada penghambaan total.

 

Penulis : Ahmad Misbahul Abidin,M.PD.I (Ketua Komisi Dakwah MUI Kab Gresik dan Sekretaris Umum DMI Kabupaten Gresik).

 

55. (ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai Isa, Sesungguhnya aku akan menyampaikan kamu

kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari

orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-

orang yang kafir hingga hari kiamat. kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu aku

memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya".