JL. Dr. Wahidin Sudiro Husodo (Simpang Tiga Sumber) Kembangan Kebomas Gresik. Telp. (031) 3955198

Berita

Sengsara di Dunia, Merana di Akhirat - Ahmad Rofiq

20 April 2015 10:53:24

Sengsara di Dunia, Merana di Akhirat    -     Ahmad Rofiq

Di dalam tulisan sebelumnya kita telah membahas tentang definisi islam. Bahwa bisa jadi kata ISLAM adalah singkatan dari Ingin Selamat Laksanakan Ajaran Muhammad saw. Saya tidak memaksa anda untuk setuju dengan definisi itu. Jika anda memiliki satu definisi yang anda yakini lebih pas, itu hak anda. Cuma sekarang mari kita lanjutkan diskusi kita tentang agama yang kita peluk dengan sepenuh hati ini. Kini persoalannya, selamat dari apa?

Selamat atau dalam bahasa Jawa “Slamet” adalah suatu hal yang sangat penting. Di situasi yang bagaimanapun. Meski anda orang terkaya nomor dua ribu sedunia, tapi kalau tidak selamet, maka kekayaan anda akan sia-sia. Meski anda orang yang berkuasa dan kekuasaan anda hanya beberapa digit di bawah presiden Amerika, tapi kalau anda tidak “slamet” maka kekuasaan anda tidak berarti apa-apa. Intinya selamat itu sangat penting bagi setiap orang. Begitu pentingnya “slamet” sehingga orang-orang tua di jaman dulu selalu menyertakannya dalam setiap doa. Tidak jarang ketika seorang anak berpamitan dan hendak pergi jauh, orangtuanya bilang “Ora tak sanguni opo-opo. Wis tak sangoni slamet wae…”

Jika kita melaksanakan sepenuh hati ajaran yang diusung kanjeng nabi Muhammad, artinya kita benar-benar ber-islam, maka kita akan selamat dari kesengsaraan, baik di dunia maupun di akhirat. Sebab salah satu tujuan dari disyariatkannya Islam adalah membimbing manusia untuk mencapai kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun kelak di akhirat. Jika demikian maka pemahaman terbalik atau mafhum mukhalafah nya, Islam menyelamatkan manusia dari kesengsaraan sejati, baik di dunia maupun di akhirat.

Pemahaman seperti ini kiranya dapat kita terima. Karena satu kebenaran logis yang tidak bisa disangkal, menjalankan sesuatu adalah meninggalkan lawan dari sesuatu tersebut. Jika kita berdiri berarti kita meninggalkan lawan berdiri, misalnya duduk, berdiri ataupun jengking. Jika kita berhasil meraih kebahagiaan berarti kita selamat dari lawan kebahagiaan, yaitu kesengsaraan. Dalam kaidah ushul fiqih tertera satu kaidah yang berbunyi ‘al-amru bi as-syai, nahyun `an dliddihi’ (perintah terhadap sesuatu adalah larangan dari lawan sesuatu tersebut).

Perlu juga kita kupas sedikit di sini, apa itu kebahagiaan. Suatu hal yang bagaimanapun abstraknya selalu menjadi tujuan dan sasaran utama (main goal) setiap manusia. Sebab tak jarang kita mencampur-adukkan ‘kebahagiaan’ dengan ‘kesenangan’. Padahal keduanya adalah dua hal yang sungguh berbeda. Ada yang terlalu ekstrim, dengan menganggap hidup bahagia adalah hidup yang terus-menerus merasa senang. Sama sekali tak pernah menghadapi persoalan yang membuatnya susah. Pemahaman seperti ini jelas keliru. Lagi pula mustahil alias impossible ada hidup dengan tipe semacam itu. La wong hidup itu rangkaian dari kesusahan dan kesenangan.  Ada tawa ada air mata. Kalau hidup isinya tawa tok ya bisa dikatakan gila nanti. Kalau airmata doang, alangkah cengengnya. Bisa-bisa disangka berjualan airmata nanti ha..ha..ha.

Kembali ke monitor !

Kebahagiaan sejati, menurut Islam, adalah adanya dua faktor yang menjadi penyebab kebahagiaan itu di dalam kehidupan seseorang. Faktor pertama adalah faktor penentu (determinant factor), sedangkan factor kedua hanyalah bersifat penunjang. Maka saat kedua faktor itu ada dalam diri seseorang, saat itulah dia akan menemukan kebahagiaan sejati dalam hidupnya. Faktor utama atau penentu dari kebahagiaan sejati adalah ‘ketenangan hati’ (sakinatu al-Qolb). Sedangkan faktor yang sifatnya hanya penunjang atau pendukung kebahagiaan adalah ‘kesenangan’. Ketenangan hati hanya bisa didapat dari kedekatan diri dengan Allah Swt. (al-qurbu ilallah). Sedangkan kesenangan –yang merupakan faktor pendukung dari kebahagiaan sejati bisa didapat dari beberapa sumber.

Al-Ghazali, ulama yang dijuluki ‘hujjatul islam’ dan berjasa besar dalam mengharmonisasikan syariat dan tasawuf menyatakan, bahwa pencarian manusia di dunia ini pada akhirnya akan bermuara pada dua hal: kesenangan dan ketenangan. Ada empat macam sumber kesenangan, yaitu: ilmu pengetahuan, keluarga, harta benda dan kedudukan atau status sosial. Dari keempat hal inilah orang bisa mendapatkan kesenangan. Umpamanya orang yang mempunyai kedudukan atau status sosial tinggi lebih berpeluang mendapatkan banyak kesenangan. Dibanding orang yang tidak memilikinya. Orang yang memiliki harta banyak lebih besar peluangnya untuk mendapatkan kesenangan daripada orang miskin. Ia bahkan bisa membeli bermacam kesenangan dengan uang dan hartanya.

Namun begitu, perlu kita sadari bahwa keempat sumber di atas -ilmu, keluarga, harta dan jabatan- hanyalah sumber-sumber kesenangan. Keempatnya tidak bisa secara otomatis memberikan ketenangan pada seseorang. Padahal sebagaimana konsep Islam, justru ketenangan adalah modal dasar dan utama dari kebahagiaan. Selain itu hanyalah pendukung dan faktor sekunder. Betapa banyak orang yang telah berhasil meraih banyak kesenangan namun masih gagal meraih ketenangan. Apalagi bila dicari dari keempat sumber yang memang bukan tempatnya. Sebab sumber ketenangan hati hanya ada satu.

Begitulah, sumber ketenangan hati adalah iman dan kedekatan dengan Allah Swt. Keyakinan seperti itulah yang merubah hidup tokoh sufi wanita kaliber dunia, Rabiah al-`Adawiyah. Dia rela meninggalkan dunia artis yang telah lama dia geluti sekian tahun, kekayaan yang melimpah, popularitas serta teman dan relasi yang banyak. Sebagai artis populer dia justru melepas segala kemewahan itu demi ber-khalwat dan munajat. Mendekatkan diri pada Allah Swt. Dalam biografinya dia mengatakan justru pada saat berkhalwat dan melakukan pendakian spiritual itulah dia mendapatkan kebahagiaan yang tiada tara. Uang, rumah, popularitas sebagai selebriti, glamour kehidupan kota memang membuatnya senang, tetapi tidak membuat hatinya tenang.

Berangkat dari pengalaman spiritualitas tersebut, Ibnul Qoyyim menulis sebuah buku yang mengangkat masalah-masalah itu dengan judul Madarijus Salikin. Pada waktu membicarakan masalah kalbu (merujuk pada ayat al-Qur`an Ala bidzikri al-Lahi tathmainnu al-Qulub), Ibnu Qoyyim menyatakan:

 

في القلب وخشة لايزيلها إلاّ الأنسُ بالله , وفيه حُزْن لايُدهبهُ إلاّ السّرُورُ بمعرفة الله , وفيه قلق لايسكنهُ إلاّ الإجتماعُ إليه والفرارُ إليه, وفيه فاقة  لايسدها إلاّ محبّتهُ والإنابة إليه والدّوامُ به, ولو أُعْطيتِ الدّنْيا وما فيها لمْ تسُدّ تلك الفاقة

 

“Di dalam hati ada hal-hal yang berkeliaran (kegelisahan), dan hal itu tidak bisa dihilangkan kecuali seseorang sudah merasa cukup tenang berada di dekat Allah. Di dalam hati juga ada rasa susah dan kedukaan, dan duka itu tak dapat dihapus oleh apapun kecuali dengan kesenangan ma’rifat kepada Allah. Di dalam hati juga ada kegoncangan, dan semua kegoncangan itu tidak mungkin ditenangkan kecuali pada saat merasa bertemu dengan Allah atau lari kepada-Nya. Dalam hati ada kebutuhan yang mendesak (kefakiran), dan kebutuhan itu tidak bisa ditutup kecuali memperoleh rasa cinta pada Allah dan selalu dapat melestarikan ingatan pada-Nya. Andai kata dunia dan seluruh isinya diberikan untuk menutup kebutuhan yang ada di dalam hati tersebut nisacaya hal itu tidak akan pernah cukup.”

 

Kini, mari kita bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita mempunyai faktor dominan (dominant factor) dari kebahagiaan sejati jika memang yang kita damba dalam hidup ini adalah kebahagiaan? Jangan-jangan kita termasuk dalam daftar orang yang disindir oleh pepatah Jawa yang berbunyi ‘Mburu Uceng k`elangan Delek’ (memburu ikan kecil dengan taruhan kehilangan ikan besar). Dalam konteks pencarian kebahagiaan sejati, kita mati-matian mengejar uang, status sosial, kedudukan tinggi, popularitas dan sebagainya. Padahal semua itu hanyalah faktor penunjang saja dari kebahagiaan yang selalu kita damba. Dan ironisnya, demi meraih semua itu kita rela kehilangan faktor utama dari kebahagiaan, yakni ketenangan hati. Kita panik, cemas, khawatir, sedih, stress dan konco-konconya demi memburu factor-faktor penunjang saja dari kebahagiaan. Sedangkan modal utamanya (ketenangan hati) tidak kita miliki. Dengan ber-islam secara kaffah dan bukannya setengah-setengah kita berharap semoga Allah menjauhkan kita dari keadaan sebagaimana judul tulisan ini.