JL. Dr. Wahidin Sudiro Husodo (Simpang Tiga Sumber) Kembangan Kebomas Gresik. Telp. (031) 3955198

Berita

Hidup Laksana Secangkir Kopi

24 Maret 2015 12:03:57

Hidup Laksana Secangkir Kopi

Ada yang bilang hidup itu perjalanan. Yang lain berpendapat hidup itu sebuah perjalanan. Tidak sedikit orang yang yakin bahwa hidup itu hanya sebuah persinggahan. Menurut saya, hidup ini ibarat secangkir kopi. Perpaduan sempurna dari rasa pahir dan manis. Untaian airmata dan senyuman.

Kadang saya bertanya sendiri dalam hati, kenapa sebuah komputer atau robot yang begitu pintar dan canggih tidak dikatakan sebagai makhluk hidup. Meskipun kedua benda itu memiliki potensi serta skill dahsyat. Kepintaran yang juga dimiliki manusia. Bukan hanya manusia, tapi komputer atau robot yang canggih itupun bisa berpikir. Mereka dapat menjawab pertanyaan, memecahkan suatu masalah, mengurai sebuah kode atau bahkan membantu manusia dengan kepandaian mereka. Jangan heran, kalau banyak orang menyatakan bahwa manusia dengan otaknya tak beda dengan sebuah komputer dengan bermacam perangkatnya.

Meskipun dengan keahlian dan skill seperti itu, masih saja tak ada orang yang mengatakan bahwa sebuah komputer ataupun robot adalah makhluk hidup. Padahal keduanya amat sangat pintar. Kalau dalam istilah sekarang robot atapun komputer sangat intelek. Di sisi lain, seekor keledai, binatang yang seringkali dijadikan sampel atau perumpamaan bagi orang yang kelewat dungu disebut makhluk hidup. Padahal kalau diukur dari kepintarannya, juga kapasitas dan daya berpikirnya, jelas bahwa seekor keledai kalah jauh dengan komputer, apalagi robot. Kalau anda ragu dengan pernyataan saya, dengan senang hati saya persilahkan anda untuk mengajukan sendiri pertanyaan. Pertama tanyakan sesuatu pada seekor keledai, misalnya empat ditambah empat sama dengan berapa. Setelah itu, dengan cara yang sama silahkan anda menyodorkan pertanyaan tersebut pada seperangkat komputer atau robot. Anda akan tahu bahwa otak komputer jauh lebih cerdas daripada otak seekor keledai.

Baru belakangan ini saya mendapat sedikit pemahaman kenapa bisa begitu. Kenapa  setiap benda yang mampu berpikir joss tidak serta merta menjadi alasan barang itu bisa dikatakan sebagai makhluk hidup. Sedangkan makhluk sedungu apapun, setumpul apapun pola berpikirnya disebut makhluk hidup. Sedikit perenungan yang saya lakukan sampai pada kesimpulan: yang membedakan antara komputer maupun alat-alat canggih lainnya dengan seekor keledai, sebatang pohon, seekor Bekicot dan lain-lain adalah kemampuan ‘merasakan’. Anda pasti tahu, meskipun dungu tapi seekor keledai jelas bisa merasakan. Walaupun bentuknya sangat bersahaya dan tak pernah mengenyam bangku sekolahan, tapi seekor Bekicot tetap saja disebut makhluk hidup. Meskipun sebesar debu, tapi seekor kutu rambut (jawa: Tumo) dikatagorikan sebagai makhluk hidup. Tapi meskipun sebesar kerbau, sebuah robot tetap tak bisa disebut makhluk hidup. Kenapa begitu? Sebab bekicot, keledai, tumo dan sebagainya mempunyai kemampuan untuk merasakan (feel). Satu skill utama yang jelas-jelas tidak dimiliki oleh komputer, robot ataupun alat paling canggih lainnya.

Dari paparan sederhana di atas, kita tahu bahwa hakikat hidup adalah ‘merasa’ dan memiliki kesadaran. Anda dan saya dikatakan sebagai makhluk hidup bukan karena anda dan saya pernah menjalani pendidikan di bangku sekolahan. Juga bukan karena anda dan saya dapat berpikir secara logis, analitis, matematis atau seringkali berpenampilan necis. Tapi karena anda dan saya punya kesadaran meski kadarnya berbeda. Kita bisa merasa. Bahkan seandainya kita sudah tidak mampu berpikir lagi. Ah, anda pasti tahu bahwa orang gila yang model berpikirnya tak karuan juga tetap menyandang titel ‘makhluk hidup’.

Para pembaca yang budiman (meski nama anda bukan Budi), kita tidak bisa dikatakan ‘hidup’ meski sangat pintar dan lihai dalam berpikir. Juga meskipun amat handal dalam berdiplomasi dengan pihak-pihak lain. Sehingga dapat meraih apapun target kita karena kepintaran kita. Tapi di saat yang sama kita tak bisa merasa atau memiliki kesadaran. Kenapa begitu? Karena salah satu syarat dikatakan hidup adalah merasa. Sadar.

Bahagia atau tidak bahagia seringkali hubungannya dengan masalah rasa, bukan pikiran. Dan rasa akan kita temukan saat kita bersedia keluar dari pikiran kita. Dengan kata lain, kalau anda menjalani hidup dengan pikiran anda, berarti anda tidak menggunakan indera anda yang lain secara optimal. Jika demikian maka mustahil anda bisa merasa bahagia. Bagaimana akan merasa bahagia, lha wong merasa saja belum. Begitu kan? Yang lebih mungkin adalah anda merasa bingung, tertekan, sedih, panik  dan sebagainya.

Misalnya saja, anda sedang minum susu cap Nona yang bikin sehat sebab full gizi. Setidaknya begitulah bunyi tulisan di kalengnya. Tapi saat minum otak anda sibuk memikirkan hutang pada warung sebelah yang mulai menumpuk. Atau anda sedang berbaring di sebuah ranjang empuk yang harganya cukup untuk memberi sarapan seribu pengemis dalam sehari. Di salah satu kamar hotel berbintang lima. Tapi pikiran anda muter-muter tak karuan karena mencari-cari cara bisa lolos dari pemerinksaan petugas pajak. Lumayan pusing kan?

So, saran saya kepada anda: cobalah untuk memberikan hak-hak panca indera anda. Hak yang selama ini telah banyak dirampas oleh pikiran anda. Sadar atau tidak, anda telah membiarkan otak anda mendaulat diri sebagai juragan dalam menjalani hidup ini. Juragan yang lumayan dhalim sebab sering merampok hak-hak milik organ tubuh anda yang lain. Jika anda memandang sebuah lukisan, mata anda mempunyai hak untuk menikmati estetika serta keindahan lukisan itu. Tapi hak itu tidak tertunaikan sebab otak anda sibuk mencari pemecahan suatu masalah, misalnya sebuah tugas kuliah dari dosen anda. Jika anda makan penthol, lidah anda mempunyai hak untuk mengecap kelezatan jajan murah meriah itu. Tapi seringkali otak merampasnya. Sebab saat makan pentol anda sibuk memikirkan kejadian seminggu lalu.

Setiap indera dan organ tubuh ini mempunyai hak yang seharusnya kita tunaikan. Hak yang tak selayaknya begitu saja ditelantarkan. Anda pasti tahu, sebab statemen ini juga pernah dipesan kan Nabi saw. Jangan menuruti pikiran sembari melanggar pemenuhan hak organ kita yang lain. Misalnya kita begadang malam sebab ingin nonton sepakbola. Tentunya dengan cara memaksa kedua mata kita melek semalam suntuk. Entah dengan cara minum kopi tanpa gula, mengoleskan balsam ke bola mata ataupun cara-cara ekstrem lainnya. Semua itu demi menuruti pikiran kita. Demi memenuhi keinginan kita nonton sepakbola. Singkat cerita, demi keinginan itu kita telah dengan semena-mena melanggar hak-hak organ tubuh yang lain untuk beristirahat.

Pesan bahwa segala sesuatu mempunyai hak - yang didasarkan pada sabda Nabi saw. Tersebut bisa diterapkan secara luas. Saya sendiri baru sadar (asalnya belum), betapa banyak hak-hak organ tubuh saya selama ini yang saya langgar serta saya sia-siakan. Tidak saya tunaikan seperti seharusnya. Semua itu karena saya lebih memprioritaskan pikiran serta otak. Anda pasti tahu, saat melihat sebuah pemandangan indah, sebenarnya kedua mata saya mempunyai hak untuk menikmati keindahan itu. Tapi nyatanya disita oleh kesibukan pikiran yang meloncat ke sana kemari. Pikiran memang mempunyai tabiat dasar suka meloncat-loncat seperti seekor monyet. Oleh karenanya jangan heran kalau pikiran kita sering diistilahkan  dengan monkey mind. Jangan keliru ya, monkey mind, bukannya donkey mind.

Di saat kita menghadapi sepiring nasi pecel, lidah kita mempunyai hak penuh untuk mengecap kelezatan pecel itu. Tapi haka untuk mengecap itu seakan sirna. Sebab saat menggasak sepiring pecel, kita lebih memperhatikan pikiran kita yang berkelana kesana-kemari. Bukannya lidah kita yang sedang mengecap kelezatan sepiring pecel. Pada saat meraba sesuatu yang halus (mohon jangan berpikir ngeres) tangan kita mempunyai hak yang seharusnya kita tunaikan. Yaitu hak untuk merasakan halusnya sesuatu tersebut. Misalnya pipa paralon atau tepung terigu. Tapi lagi-lagi kita melanggar hak milik tangan kita. Karena kita lebih memprioritaskan pikiran kita. yang bagai monyet kesurupan itu. Apakah anda sering mengalami seperti itu?

Jadi saudara-saudara, mari kita berikan kembali hak-hak yang dimiliki organ dan indera tubuh kita. Janganlah kita bersikap dhalim pada organ-organ itu dengan cara merampas haknya. Mulai sekarang tak usah kita terlalu memberi hati pada otak atau pikiran kita. Ingat, saya katakan memberi hati, bukannya ‘tidak menggunakan’. Anda harus tetap menjadikan otak anda sebagai pelayan anda. Pelayan yang akan membantu anda dalam menjalani hidup ini. Jangan sampai anda membiarkan pikiran (otak) anda nglamak dengan mengangkat diri sebagai Bos. Ingat pula, hidup ini seyogyanya disyukuri, dijalani serta dirasakan. Bukannya dijalani sambil lalu saja. Artinya dilakoni sambil terus-terusan memikirkan sesuatu yang jauh dari apa yang sedang kita jalani saat ini. Jika kita mampu menjalani hidup ini dengan benar, dalam arti kita sanggup keluar dani pikiran dan masuk secara total dalam apapun yang kita kerjakan saat ini, kita akan jauh lebih bahagia. Anda akan jadi sangat kreatif sekaligus produktif. Inilah hidup yang sebenarnya. Keluar dari pikiran lalu fokus pada apapun yang kita kerjakan saat ini.

Tak percaya? Coba saja sendiri.

 

Sekarang

Inilah salah satu syarat agar hidup kita bisa bahagia. Fokus di masa “sekarang”. Ya, kita memang  seringkali menjalani hidup ini tanpa benar-benar hidup. Lo kok? Maksud saya, kita kerap melalui semua aktivitas kita tanpa adanya kesadaran berada pada saat sekarang. Karena kita sedang berada di masa lalu atau masa depan. Ingat bahwa yang pasti dalam hidup ini adalah ‘saat sekarang’. Bukan masa lalu dan bukan pula masa depan. Masa lalu itu tidak nyata sebab hanyalah sebuah kenangan. Masa depan juga tidak nyata sebab hanya sebuah impian. Yang nyata adalah masa sekarang. Anda pikirkan atau tidak, masa depan akan datang kepada anda. 

Seringkali kita sedang makan namun sama sekali tak merasakan kelezatan makanan itu. Sebab saat melakukannnya kita tak hadir bersama makanan itu, dan pikiran kita berada di suatu tempat yang entah di mana. Cobalah anda renungkan sekalai lagi, tidakkah sebagian besar hidup anda habis untuk memikirkan sesuatu, dan bukannya menjalani suatu aktivitas dengan sepenuh hati? Anda harus sadar bahwa itulah salah satu alasan utama kenapa anda sering merasa begitu berat menjalani hidup anda. Sebab anda tidak hidup di alam kenyataan, tapi hidup di alam pikiran anda.

Prinsip “hidup adalah merasa” pada akhirnya akan menuntut kita agar lebih fokus pada apapun yang sedang kita kerjakan di saat ini. Ketika kita sedang membaca buku, maka kita akan memberi perhatian penuh pada aktivitas membaca itu. Diri kita akan hadir secara total di tempat itu sehingga aktivitas membaca buku benar-benar kita lakukan dengan sepenuh hati. Tidak dengan sambil lalu apalagi disertai dengan pikiran yang melayang pada persoalan lain. Cobalah gunakan prinsip ‘hidup adalah merasa’ ini dalam aktivitas anda sehari-hari. Maka anda akan terkejut sebab menemukan perubahan besar dalam hidup anda. Dijamin !

Saya sering dimintai saran oleh teman, bagaimana caranya agar hidup ini tidak terlalu memusingkan. Mereka –menurut pengakuan sendiri- merasa bahwa hidup yang mereka jalani amat memusingkan kepala. Biasanya saya menjawab pertanyaan itu dengan kalimat sekenanya. Misalnya saja saya katakan “Hidup adalah merasa, kawan, bukan berpikir” atau kalimat “Sobat, hidup ini untuk dijalani. bukan dipikirkan.”. Saya menjawab seperti itu sebab yakin, mereka pusing sebab terlalu banyak menggunakan pikiran. Anda tahu, hanya berpikir yang akan menyebabkan pusing, bingung, cemas, takut dan sebagainya.

Bukankah begitu?

Menjalani hidup adalah apapun yang sedang kita lakoni saat ini, di hari ini. Bukan apapun yang sedang kita pikirkan dan kita rancang. Bukan pula apa-apa yang telah kita lakukan di hari kemarin. Apalagi apa yang akan kita lakukan di hari esok. Kalau anda bersedia menggunakan prinsip “merasa’ ini, sekali lagi anda akan merasakan adanya perubahan dalam hidup anda. Apapun yang biasanya anda lakukan sambil memikirkan hal lain, akan menjadi lebih berkualitas sebab anda tidak saja melakukannya. Tapi juga melakukan dengan memberikan hati anda. Dengan seluruh tubuh anda. Sudah saatnya anda keluar dari pikiran, lalu hiduplah di alam kenyataan. Tengoklah kembali panca indera dan organ tubuh anda. Lalu fungsikan dengan semaksimal mungkin. Sayangilah diri anda sendiri, jangan terlalu memanjakan pikiran-pikiran anda. Sayangilah diri anda dan berhentilah menuruti apapun keinginan anda.

Ini mungkin saran yang sederhana, namun bisa berperan besar dalam merubah hidup anda. Fokuslah pada apapun yang sedang anda lakukan saat ini dan jangan biasakan diri mengembarakan pikiran ke tempat, masa atau kegiatan lain yang di luar masa sekarang. Fokus dan rasakanlah. Kalau anda sedang menyentuh selembar daun Singkong, maka perhatikan apa yang sedang anda lakukan itu. Rasakan dengan kulit jemari anda lembar daun yang sedang anda sentuh tersebut. Pusatkan pandangan anda pada daun itu lalu rasakan (bila memang) bahwa bentuk dan warna daun itu begitu indah.

Saya tak asal ngomong dalam hal prinsip “hidup adalah merasa” ini. Seperti telah saya katakan di depan, saya berusaha menunjukkan anda sebuah jalan, yang mana saya sendiri telah melalui jalan itu. Saya juga mempraktekan prinsip ‘merasa’ ini dalam setiap aktivitas yang saya lakukan. Bahkan dalam setiap aktivitas yang paling remeh sekalipun. Seperti halnya di saat saya sedang mandi atau mencabuti rumput. Selama ini saya mandi secara asal-asalan, sebab pikiran saya telah menuntut agar saya cepat-cepat selesai dan segera sampai ke tempat kerja. Tapi kebiasaan itu saya ubah, dengan jalan menerapkan prinsip “hidup adalah merasakan” ini. Saat saya menyiramkan air ke tubuh saya, maka saya fokus dan benar-benar merasakan tiap tetes air yang membasahi badan saya. Bahkan untuk lebih menambah rasa nyaman di hati, saya sengaja memejamkan mata sambil membayangkan diri saya sedang mandi di pinggir sebuah danau yang amat indah. Sebuah danau yang airnya amat bening, jernih dan tenang. Meski tanpa suara, berkali-kali hati saya mengucapkan syukur pada Tuhan dengan kesegaran air itu.

Juga ketika saya sedang menyantap makanan, saya tak lupa mempraktekkan prinsip ‘merasakan’ ini. Saya benar-benar memperhatikan sepiring nasi putih dengan sambal terasi, atau sebungkus Bothok daun singkong. Saya hadir bersama nasi itu dan merasakan dengan sepenuh hati tiap inci dari kelezatan yang diusung nasi dan Bothok singkong tersebut. Saya berusaha mengikis kebiasaan lama, yang memberi kesempatan pada pikiran untuk melompat ke sana kemari. Saat pikiran saya tiba-tiba ingat sesuatu yang lain, saya langsung menariknya kembali ke hadapan nasi itu. Saya perhatikan lagi makanan dan aktivitas mengganyang yang saya lakukan. Pendek kata, saya melakukan aktivitas makan itu dengan sepenuh hati, dan hasilnya …Luarrrr biasa. Di samping saya akan benar-benar menikmati makanan itu, saya juga merasa benar-benar hidup.

 

Wallahu `alam bisshowab

- Ahmad Rofiq -

;Penulis adalah alumnus pondok pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang, anggota Dewan Redaksi majalah Madinah dan MAJALIS Gresik