JL. Dr. Wahidin Sudiro Husodo (Simpang Tiga Sumber) Kembangan Kebomas Gresik. Telp. (031) 3955198

Berita

ISLAM, Betulkah Sebuah Singkatan?

16 Maret 2015 10:53:45

ISLAM, Betulkah Sebuah Singkatan?

Saya  setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa kata “Islam” itu sebuah singkatan. Kepanjangannya: Ingin Selamat Laksanakan Ajaran Muhammad saw (ISLAM). Itulah definisi Islam yang simpel, mudah dihafal, ilmiah juga dapat dipertanggung-jawabkan.  Sebagaimana sering penulis sampaikan pada orang yang bertanya apa itu makna sebenarnya dari Islam. Asal tahu saja bahwa mendefinisikan Islam seperti itu bukannya tanpa dasar dan landasan, serta sekedar definisi dengan metode dalam istilah Jawa ‘othak-athik-mathuk’. Sama sekali bukan. Justru pengertian Islam seperti itu disamping lebih mudah dihafal nyatanya juga tepat dan mengena secara substansial.

Pengertian Islam seperti ini pula yang disampaikan Dr.KH. Suyuthi Dahlan. Seorang kiai yang juga intelektual.  Termasuk dosen senior di Universitas Islam Malang, UNISMA. Saya mendengar sendiri hal itu dari beliau. Bahkan dia juga menceritakan bahwa saat diundang sebagai narasumber di salah satu diskusi keislaman di sebuah universitas, banyak yang memprotesnya. Seorang mahasiswa peserta diskusi langsung saja mengajukan keberatannya berkaitan dengan pemaknaan Islam seperti itu. Ia bilang pada kiai Suyuthi Dahlan, bahwa jika Islam diartikan seperti itu maka hal itu-menurutnya- suatu pengertian yang asal-asalan. Sifatnya kebetulan saja. Definisi kampungan dan sama sekali tidak ilmiah, tambah mahasiswa itu.

Namun sebagai seorang ulama yang juga telah lulus studi doktoral, KH.Suyuti Dahlan hanya tersenyum mendengar sanggahan itu. Beliau lalu membeber bermacam argumentasi yang intinya menyatakan bahwa pemaknaan Islam sebagai “Ingin Selamat Laksanakan Ajaran Muhammad’ adalah pengertian yang sangat ilmiah. Bukan definisi yang sifatnya kampungan atau Ndeso tapi ‘kampusan’. Tidak ada yang salah jika Islam dimaknai seperti itu. Bahkan beliau yang saat itu menjadi narasumber menyarankan mahasiswa tadi untuk lebih banyak lagi membaca buku-buku keislaman. Misalnya buku yang dikarang oleh tokoh-tokoh Islam seperti halnya Abul `Ala Al-Maududi, Sayyid Qutb, Husain Affandi dan lain-lain.

Memang, sepintas mengartikan islam seperti itu terkesal asal-asalan atau mungkin akal-akalan. Namun bila kita kaji secara lebih mendalam, akan kita sadari bahwa memang demikianlah yang sebenarnya. Dengan ungkapan lain, kalau kita ingin selamat maka kita harus melaksanakan sepenuh hati ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.

Di sini kita akan menengok sebentar, berusaha membuktikan apakah memang benar pernyataan bahwa makna Islam seperti itu memang tepat. Jangan-jangan malah bukan saja tepat, tapi seperti saya singgung di atas mudah untuk dihafal.

Secara etimologi kata ‘Islam’ adalah sebuah kata dalam bahasa Arab yang berbentuk ‘masdhar’. Kata tersebut diambil dari bentuk kata kerja aslama-yuslimu-islaaman. Makna asal dari kata itu adalah menyerahkan diri atau memasrahkan diri. Sedangkan secara terminologi atau istilah islam memiliki banyak arti. Banyak dalam arti bervariasi dalam tataran kalimat saja, tapi esensinya tetaplah sama.

Sayyid Husain Afandi dalam bukunya al-hushunu al-hamidiyyah menulis, ‘Islam adalah ketundukan dan kepatuhan lahir maupun batin pada setiap hal yang datang dari Nabi Muhammad saw. Dan kedatangan hal tersebut dari Nabi saw. dipahami dengan sepenuh keyakinan.’

Sesuatu tersebut bisa berupa perintah untuk melakukan sesuatu, larangan agar tidak melakukan sesuatu, anjuran dan lain sebagainya. Pendek kata, segala yang datang dari Nabi SAW diterima dengan ketundukan lahir batin. Dan itulah definisi islam. Lalu apa gunanya agama islam diturunkan pada umat manusia? Semua tahu islam disyariatkan bukan untuk kebaikan Tuhan, tapi untuk kebaikan para pemeluknya sendiri. Untuk meraih kebahagiaan hakiki, baik di dunia dan akhirat. Untuk mencapai kedamaian hidup dan kebahagiaan sejati. Pendeknya, islam menyelamatkan manusia.

Jadi antara iman dan islam adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Setiap orang mukmin adalah orang muslim. Begitupun sebaliknya, setiap orang muslim adalah orang mukmin. Sebab seorang mukmin adalah orang yang meyakini kebenaran Rasulullah SAW atas segala hal yang beliau terima dari Allah Swt. Dan keyakinan dalam hati tanpa diikuti dengan ketundukan bukanlah keyakinan yang benar.

Senada dengan itu adalah apa yang disampaikan oleh Dr. Muhammad Ibraheem El-Geyoushi. Dalam bukunya dia menulis, ‘The word Islam, which is derived from Arabic , means to accept, to follow and to obey. In other words, Islam is following God, the Master. God is our creator and Master. Our success in life relies fully on following the Master. ……. The word Islam also means peace. Therefore Islam means both obedience to God and peace. Islam seek peace through obedience to God, the creator and the Master. Islam is a religion from God which leads its followers to gain true peace.’ 

Begitulah, Islam berarti menerima dan tunduk. Islam juga berarti ‘kedamaian dan keselamatan’. Ia adalah sebuah agama samawi yang membimbing para pemeluknya dapat meraih keselamatan serta kedamaian yang sesungguhnya (leads its followers to gain true peace).

Lalu bagaimana al-Qur`an menjelaskan? Seorang muslim sejati adalah orang yang taat pada Allah Swt dan Nabi Muhammad SAW. Itulah pernyataan kitab suci al-Qur`an. Di dalam ayat 59 dari surah al-Nisa` Allah berfirman:

 

“Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan orang-orang yang memegang kekuasaan di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia pada Allah (al-Qur`an) dan Rasul (sunnahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa`: 59).

 

Kemudian di dalam ayat lain juga dijelaskan, untuk bisa taat pada Allah Swt (dengan menjalankan setiap perintah dan menjauhi segala larangan-Nya), maka seorang muslim harus taat pada Rasul-Nya. Karena Allah Swt adalah Tuhan Serba Maha yang untuk mengerti perintah dan larangan-Nya secara langsung bukan perkara mudah. Dengan ungkapan lain, tak mudah untuk bisa tahu apa yang dikehendaki Allah Swt. Meski Dia telah menurunkan al-Qur`an sebagai petunjuk dan memuat segala sesuatu, namun tidak semua dari kita (umat islam) dapat membaca al-Qur`an. Dan jika memang dapat membaca belum tentu mampu memahami arti dari ayat-ayat tersebut. Memang sudah banyak para ulama yang mengarang kitab tafsir, sebagai salah satu usaha untuk menjelaskan makna kitab suci, tapi kebanyakan kitab tafsir yang dikarang oleh para ulama menggunakan media bahasa Arab pula. Padahal umat Islam tidak semuanya mengerti bahasa Arab.

Untuk melihat bukti nyata bagaimana menjalani hidup sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah Swt, maka kita bisa belajar dari sejarah hidup Rasulullah saw. Dengan kata lain, Rasulullah saw adalah pelaksana sempurna dari apa yang tersirat maupun tersurat dalam kitab suci al-Qur`an. Inilah kenapa saat salah seorang sahabat bertanya pada Ummul Mukminin Aisyah r.a: “Bagaimana akhlak Rasulullah?”, maka Aisyah r.a. menjawab “Akhlak Rasulullah saw adalah al-Qur`an.”. Sahabat itu masih saja bertanya “Apa maksud akhlak Rasulullah adalah al-Qur`an?” Aisyah r.a berkata “Wahai sahabat, tidakkah kamu membaca surah al-Mukminun?”.

Besar kemungkinan, Aisyah ra. berkata seperti itu sebab dalam surah al-Mukminun dijelaskan bagaimana akhlak seorang mukmin yang baik. Dan dalam bentuk nyata dari implementasi serentet etika dalam surah al-Mukminun itu adalah segala prilaku Nabi saw dalam hidup keseharian. Meskipun ayat yang memuat tentang akhlak seorang mukmin tidak hanya ada dalam surah al-Mukminun. Masih banyak ayat di dalam al-Qur`an yang menjelaskan bagaimana seorang mukmin sejati harus beretika dalam kesehariannya. Dalam setiap segi kehidupannya. Misalnya menepati janji, berdisiplin, tidak menyakiti hati saudaranya, hormat pada kedua orang tua dan sebagainya.

 

- Ahmad Rofiq -

;Penulis adalah alumnus pondok pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang, anggota Dewan Redaksi majalah Madinah dan MAJALIS Gresik