JL. Dr. Wahidin Sudiro Husodo (Simpang Tiga Sumber) Kembangan Kebomas Gresik. Telp. (031) 3955198

Berita

Takdir Memang Sempurna - Ahmad Rofiq

19 Februari 2015 18:40:10

Takdir Memang Sempurna -  Ahmad Rofiq

Pernah beredar sebuah lagu yang salah satu bait syairnya berbunyi, Takdir memang kejam, tak mengenal perasaan. Lagu ini sangat populer waktu itu sebab dinyanyikan oleh penyanyi yang juga lumayan tenar. Untung saja lagu ini segera direvisi sebab diprotes keras oleh MUI pusat atas ‘kengawuran’ makna syairnya. Sebab jika tidak MUI yang turun tangan saya khawatir lagu ini akan diprotes oleh divisi nahi munkar dari sebuah Ormas islam bernama FPI.

Lagu itu memang salah, dan akibatnya bisa berbahaya. Takdir adalah ciptaan Allah dan Allah memiliki sifat serba Maha, termasuk Maha Mengetahui segala sesuatu. Yang telah terjadi, sedang terjadi maupun yang akan terjadi semuanya ada dalam pengetahuan-Nya. Dan yang namanya takdir, meskipun secara lahiriah dalam pandangan kita sangat tidak enak untuk dijalani, tapi itu pastilah takdir terbaik untuk kita. Bahkan jika takdir itu dalam kacamata kita yang kerdil dan terbatas ini berbentuk sebuah musibah.

Masalah takdir dan kebebasan manusia atas apa yang dia lakukan memang sudah lama menjadi polemic dan perdebatan. Saya hanya menekankan bahwa takdir, apapun bentuknya, adalah yang terbaik yang telah dirancang Allah. Jadi tidak ada satu kebetulan di dunia ini. Jika ada kalimat kebetulan yang digunakan seseorang, maka hal itu mungkin sekali dia maksudkan sebagai ungkapan rendah hati tentang posisi strategisnya.

Percaya pada takdir memang bukan saja suatu kewajiban sebab hal itu salah satu rukun iman. Percaya pada takdir dengan segala kesempurnaannya juga sangat bermanfaat untuk kesehatan mental, pikiran dan fisik kita. Bagi mereka yang tidak percaya takdir dengan kesempurnaannya maka yang namanya stress, stroke, gelisah dan konco-konconya sedang mengintai di dekatnya. Lengah sedikit mereka bersiap menerkam. Oleh karena itu sangat penting untuk selalu mengkaitkan impian dan cita-cita kita dengan kehendak Allah. Sehingga bila terjadi ketidak-sesuaian antara realitas yang kita hadapi dengan impian yang kita canangkan, kita bisa menerima hal itu dengan hati ikhlas dan penuh kerelaan (ar-ridla). Tidak terjebak dalam sifat dan sikap yang keliru, misalnya negative thinking atau su`udhan pada Allah.     

Percaya pada takdir tidak sama dengan mengkambing-hitamkan takdir atas kemalasan kita. Semua memang sudah ditakdirkan Allah, termasuk rizki kita beserta takarannya. Tapi bergerak dan berusaha untuk menyongsong karunia Allah (fadlullah)  adalah perintah Allah juga. Jika seseorang malas berusaha dengan beralasan bahwa semuanya telah ditakdirkan Allah, maka orang itu telah memanipulasi takdir untuk membenarkan sifat malasnya. Dan jelas hal itu lebih berbahaya dari orang yang tidak percaya adanya takdir.

 

;Penulis adalah alumnus pondok pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang, anggota Dewan Redaksi majalah Madinah dan MAJALIS Gresik